header-photo

Monolog Diri



Bukan tak mengerti
Tapi sengaja dilewati batasan
Menjolok sarang tebuan
Walau maklum musibah yang mengundang

Kenapa?
Tubuh ini sudah cukup sasa
Menahan kesengsaraan yang dilemparkan
Atau tiada apapun setanding diri

Bukan..
Mata selalu terpukau pada kecantikan
Tangan begitu mudah tersalah guna
Lidah lembut tak terkawal
Telinga menadah bicara sial
Nafsu membuak dan mendidih

Sekalipun sedar mata, tangan, telinga dan lidah
Hanya pinjaman
Amanah yang perlu dijaga
Bagai menatang minyak yang penuh
Tapi kini setitis nila jatuh dalam sebelanga susu
Hancur…

Aku tahu..
Aku percaya..
Aku yakin..
Namun, musuh paling besar dalam diri
Tak mampu dicincang ditikam disebat
Malah hidung bagai dicucuk mengikut sang pengembala

Akal pun jadi mati
Buntu..
Rasional tukar emosional
Dia sudah merajai tubuh
Maka, hinalah diri lebih dari an’aam

Astaghfirullah
Tersentak seketika tunduk termenung
Solat kembali tenang menghadapNya
Tatkala selesai nafsu mengemudi diri
Arghh… rasa menyesal terbit
Lalu segala persoalan menerjah di benak
Mengapa? Mengapa kau kufur?
Apa? Apa nak jadi dengan kau?
Kenapa? Kenapa tergamak kau lakukan maksiat?
Siapa? Siapa yang berikan kau segala-galanya?

Rasa takut menyusup meresapi setiap pembuluh darah
Namun, bak air di musim kemarau
Sekejap sahaja kering dek panas membara

Inikah taubat?
Setelah bersalah lantas memohon maaf
Tapi pabila dimaafkan kembali bersalah
Kau main-main ya?

Tiada ulasan:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...